Jakarta, Antartika Media Indonesia – Rencana untuk menghentikan operasional dapur MBG saat siswa memasuki masa libur menuai tanggapan yang beragam. Di kalangan pengawas keuangan, langkah ini dinilai masuk akal agar dana negara tidak terpakai untuk kegiatan yang tidak memiliki sasaran langsung. Namun di sisi pelaksana, langkah ini dianggap akan mengganggu kesiapan operasional ke depannya.
Situasi pro dan kontra ini semakin menguat seiring belum adanya kepastian resmi yang diterbitkan. Masyarakat dan mitra kerja pun semakin membutuhkan kejelasan agar bisa menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan sesuai ketentuan yang berlaku nantinya.
Dalam pandangannya, Ketum Antartika Ramses Sitorus menyatakan bahwa perbedaan pendapat ini justru menunjukkan bahwa kebijakan tersebut memiliki dampak yang luas. Oleh karena itu, ia mendesak BGN untuk tidak terburu-buru menetapkan aturan secara sepihak tanpa mendengar pandangan semua pihak.
“Ketika ada yang mendukung dan ada yang menolak, artinya masalah ini memiliki banyak aspek yang harus dikaji. Kami meminta BGN tidak membuat keputusan sendiri, tapi mengumpulkan semua masukan, baik yang mendukung maupun yang menentang, lalu mencari titik temu yang paling menguntungkan program secara keseluruhan,” tegas Ramses Sitorus, Jumat (19/6).
Ia juga menambahkan bahwa aset negara seperti dapur MBG memiliki nilai strategis. Penggunaannya harus diatur sedemikian rupa agar tetap terjaga fungsinya, bukan hanya dipakai saat ada kebutuhan mendesak lalu dibiarkan begitu saja saat tidak diperlukan sementara waktu.
“Jika dibiarkan tidak terurus, masa pakai peralatan akan berkurang drastis. Itu sama saja mengurangi nilai investasi yang sudah dikeluarkan negara. Kami harap hal ini menjadi pertimbangan utama sebelum kebijakan final ditetapkan,” ujar Ramses.
Dengan melibatkan semua pihak, ia yakin akan ditemukan solusi yang tepat: bisa tetap menghemat anggaran, tapi juga tetap menjaga kondisi dapur agar siap melayani kembali begitu sekolah dimulai lagi.