Jakarta, Antartika Media Indonesia – Semifinal Piala Dunia 2026 menghadirkan salah satu pertandingan paling dinanti. Timnas Argentina akan menghadapi Inggris setelah kedua tim sama-sama melewati laga dramatis di babak perempat final. Meski sama-sama menang lewat babak tambahan, cara kedua tim meraih kemenangan menunjukkan karakter permainan yang berbeda dan membuka peluang duel taktik yang menarik.
Argentina memastikan tiket ke empat besar usai mengalahkan Swiss 3-1 di Arrowhead Stadium. Sementara itu, Inggris bangkit dari ketertinggalan untuk menundukkan Norwegia 2-1 melalui babak extra time berkat dua gol Jude Bellingham. Hasil tersebut membuat semifinal nanti bukan hanya menjadi duel dua tim besar, tetapi juga adu strategi antara Lionel Scaloni dan Thomas Tuchel.
Kemenangan Argentina atas Swiss tidak diraih dengan mudah. La Albiceleste memang langsung unggul melalui sundulan Alexis Mac Allister pada menit ke-10 setelah memanfaatkan sepak pojok Lionel Messi.
Namun setelah gol tersebut, permainan Argentina mulai kehilangan ritme. Swiss tampil disiplin dengan menerapkan blok pertahanan rendah yang membuat Messi, Julian Alvarez, hingga Enzo Fernandez kesulitan menemukan ruang di area berbahaya.
Penguasaan bola memang masih didominasi Argentina, tetapi peluang bersih yang berhasil diciptakan tidak sebanyak pertandingan-pertandingan sebelumnya. Bahkan Swiss mampu menyamakan kedudukan melalui Dan Ndoye sebelum akhirnya kehilangan Breel Embolo yang mendapat kartu kuning kedua akibat diving.
Meski bermain melawan 10 orang selama hampir 50 menit, Argentina tetap membutuhkan babak tambahan untuk memastikan kemenangan. Gol spektakuler Julian Alvarez dari luar kotak penalti dan penyelesaian Lautaro Martinez menjadi pembeda saat stamina pemain Swiss mulai menurun.
Pertandingan tersebut memperlihatkan bahwa Argentina masih kesulitan menghadapi tim yang memilih bertahan rapat. Kreativitas lini tengah belum selalu mampu diterjemahkan menjadi peluang berbahaya ketika ruang bermain dipersempit.
Inggris Datang dengan Momentum Kebangkitan
Berbeda dengan Argentina, Inggris justru menunjukkan mental kuat ketika menghadapi Norwegia. Tim asuhan Thomas Tuchel sempat tertinggal lebih dulu akibat gol Andreas Schjelderup. Bahkan sepanjang babak pertama mereka beberapa kali berada di bawah tekanan serangan Norwegia yang mengandalkan Erling Haaland sebagai ujung tombak.
Namun Inggris memperlihatkan ketenangan. Jude Bellingham muncul sebagai pemimpin di lapangan dengan mencetak gol penyeimbang menjelang turun minum.
Momentum itu terus berlanjut hingga babak tambahan waktu. Ketika pertandingan mulai menguras fisik kedua tim, Bellingham kembali hadir di posisi yang tepat untuk memanfaatkan bola muntah dan memastikan kemenangan 2-1.
Laga tersebut memperlihatkan satu kekuatan utama Inggris, yaitu kemampuan bangkit ketika berada dalam tekanan. Mereka tidak selalu mendominasi pertandingan, tetapi mampu memaksimalkan peluang pada momen-momen krusial.
Duel Lini Tengah Bisa Menjadi Penentu
Semifinal diperkirakan akan ditentukan oleh pertarungan di sektor tengah. Argentina mengandalkan kombinasi Rodrigo De Paul, Enzo Fernandez, dan Alexis Mac Allister untuk mengontrol tempo permainan sekaligus menjaga Messi tetap mendapatkan ruang bergerak.
Di sisi lain, Inggris memiliki gelandang yang sedang berada dalam performa terbaik. Jude Bellingham bukan hanya produktif mencetak gol, tetapi juga mampu membawa bola melewati tekanan lawan serta memenangkan duel di area tengah.
Jika Argentina mampu menguasai lini tengah, mereka akan lebih mudah mengontrol tempo pertandingan seperti yang diinginkan Scaloni. Sebaliknya, apabila Bellingham bersama rekan-rekannya berhasil memutus distribusi bola menuju Messi, Inggris memiliki peluang besar untuk menyerang melalui transisi cepat.
Messi dan Bellingham Jadi Sorotan
Semifinal ini juga mempertemukan dua pemain dengan peran berbeda tetapi sama-sama menentukan. Lionel Messi tetap menjadi pusat permainan Argentina. Meski tidak mencetak gol ke gawang Swiss, kontribusinya terlihat melalui assist untuk gol Mac Allister serta kemampuannya menarik perhatian beberapa pemain lawan sekaligus membuka ruang bagi rekan setim.
Sementara itu, Inggris memiliki Jude Bellingham yang sedang menikmati salah satu turnamen terbaik dalam kariernya. Dua gol ke gawang Norwegia memperlihatkan kematangannya dalam mengambil keputusan di area penalti.
Selain keduanya, Julian Alvarez dan Lautaro Martinez akan menjadi ancaman bagi lini belakang Inggris, sedangkan Harry Kane tetap berstatus sebagai mesin gol yang mampu mengubah jalannya pertandingan hanya lewat satu peluang.