Jakarta, Antartika Media Indonesia – Ketua Umum Antartika, Ramses Sitorus, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap sikap dan langkah responsif yang ditunjukkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menyikapi berbagai kritik, masukan, dan saran yang muncul sepanjang pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, keterbukaan lembaga yang dibentuk langsung oleh Presiden Prabowo Subianto ini terhadap pandangan publik merupakan cerminan tata kelola pemerintahan yang sehat, transparan, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.
Ramses menegaskan bahwa ia sangat mengapresiasi cara kerja BGN yang tidak menutup diri dari evaluasi. Justru sebaliknya, lembaga tersebut terlihat secara aktif mendengarkan dan merespons setiap kritik yang disampaikan oleh berbagai elemen masyarakat, baik yang datang dari kalangan akademisi, praktisi, pengamat kebijakan, maupun masyarakat luas. Sikap ini dinilai sangat penting dan menjadi modal utama agar program strategis nasional ini dapat berjalan semakin efektif dan tepat sasaran.
“Kami sangat mengapresiasi langkah-langkah yang telah diambil oleh BGN dalam menanggapi berbagai kritik yang ada selama pelaksanaan MBG berlangsung. Bagi kami, kritik dan saran bukanlah hal yang harus dihindari atau dianggap sebagai serangan, melainkan masukan berharga yang sangat baik dan positif dalam proses membangun serta menyempurnakan sebuah kebijakan pemerintah. Semua itu bertujuan tunggal, yaitu agar manfaat program ini benar-benar dirasakan maksimal oleh seluruh rakyat Indonesia,” ujar Ramses Sitorus dengan tegas, Senin (25/5).
Lebih lanjut, Rian menjelaskan bahwa posisi BGN sebagai lembaga strategis bentukan Presiden Prabowo menjadikannya sebagai garda terdepan dalam upaya pemenuhan gizi nasional. Mengingat peran sentral dan besarnya tanggung jawab yang diemban, sudah menjadi hal yang wajar dan lumrah jika lembaga ini menjadi sorotan utama dan rentan mendapatkan berbagai macam kritik. Sebagai lembaga yang mengurusi hajat hidup orang banyak, segala kebijakan dan pelaksanaannya pasti akan mendapatkan perhatian mendalam dari berbagai pihak.
“BGN memegang peran sangat vital dalam misi besar pemenuhan gizi nasional. Karena tugasnya begitu strategis dan menyentuh langsung kepentingan masyarakat luas, maka sangat wajar jika lembaga ini menjadi sasaran kritik, baik yang datang dari akademisi yang memiliki landasan keilmuan, maupun dari praktisi yang memahami betul kondisi di lapangan. Kritik-kritik inilah yang nantinya akan menjadi kompas bagi BGN untuk terus mengevaluasi kinerjanya,” tambahnya.
Menurut pandangan Ketum Antartika, keberadaan kritik dari para ahli dan pelaku lapangan justru menjadi bukti bahwa masyarakat sangat memperhatikan dan mendukung keberhasilan program MBG. Para akademisi memberikan pandangan berbasis riset dan data ilmiah agar program ini memiliki dasar yang kuat, sementara para praktisi memberikan masukan berdasarkan pengalaman langsung di lokasi pelaksanaan agar kebijakan yang dibuat tidak hanya indah di atas kertas, tetapi juga bisa diterapkan dengan mudah dan efektif di lapangan.
Ramses juga menilai bahwa kemampuan BGN dalam menerima dan mengolah kritik menjadi perbaikan nyata adalah bukti kedewasaan institusi tersebut. Ia melihat bahwa BGN tidak sekadar menanggapi secara formalitas, tetapi berusaha melakukan penyesuaian teknis, penyempurnaan prosedur, hingga peningkatan pengawasan di berbagai lini pelayanan. Hal ini menunjukkan bahwa lembaga tersebut bekerja dengan prinsip belajar, beradaptasi, dan berkomitmen tinggi terhadap kualitas hasil kerja.
Di akhir pernyataannya, Ramses berharap hubungan harmonis antara BGN dan para pihak pemberi masukan dapat terus terjalin dengan baik ke depannya. Ia berharap semangat untuk terus memperbaiki diri ini tetap dijaga, mengingat program pemenuhan gizi nasional adalah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Dukungan, pengawasan, dan masukan yang konstruktif dari seluruh elemen bangsa, sejalan dengan respons positif dari BGN, akan menjadi kunci keberhasilan misi mulia yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini.