Jakarta, Antartika Media Indonesia – Ketua Umum Antartika, Ramses Sitorus, menyayangkan fenomena puluhan ribu calon mahasiswa yang telah dinyatakan lolos seleksi perguruan tinggi negeri (PTN), namun akhirnya tidak melakukan daftar ulang. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia.
Ramses menilai pendidikan seharusnya menjadi jembatan bagi generasi muda untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperbaiki masa depan. Namun ketika kesempatan yang telah diperoleh justru tidak dapat dilanjutkan, hal tersebut menunjukkan adanya persoalan yang lebih besar dibanding sekadar masalah administrasi.
“Ini merupakan fenomena suram dunia perguruan tinggi di Indonesia. Kita tidak boleh hanya melihat angka, tetapi harus melihat alasan di balik ribuan anak bangsa yang akhirnya tidak melanjutkan pendidikan tinggi meski sudah lolos seleksi,” ujar Ramses Sitorus dalam keterangannya, Jumat (26/6).
Ia menilai faktor ekonomi masih menjadi salah satu persoalan utama yang perlu mendapat perhatian pemerintah. Menurutnya, tidak sedikit keluarga yang menghadapi kesulitan ketika harus menanggung biaya pendidikan, biaya hidup, hingga kebutuhan pendukung lainnya meskipun anak mereka telah diterima di kampus negeri.
Ramses mengatakan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan tinggi. Ia menegaskan bahwa akses pendidikan bukan hanya soal membuka jalur seleksi, tetapi juga memastikan mahasiswa dapat benar-benar menjalani proses pendidikan hingga selesai.
Menurutnya, fenomena tersebut juga dapat menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pilihan jurusan dengan minat peserta, minimnya informasi kepada calon mahasiswa, hingga faktor psikologis dalam menentukan masa depan pendidikan. Hal-hal tersebut harus menjadi perhatian bersama agar tidak terus berulang setiap tahun.
Ramses menambahkan bahwa Indonesia sedang menyiapkan generasi unggul menuju visi pembangunan jangka panjang bangsa. Oleh karena itu, ia berharap persoalan pendidikan tinggi tidak dipandang sebagai isu biasa karena menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.
“Kalau puluhan ribu anak muda kehilangan kesempatan atau terpaksa melepaskan bangku kuliah, maka yang hilang bukan hanya kursi pendidikan, tetapi juga potensi besar bangsa ini. Negara harus hadir mencari solusi agar pendidikan tinggi benar-benar bisa dijangkau seluruh masyarakat,” tutupnya.