Jakarta, Antartika Media Indonesia – Ketua Umum Antartika Group, Ramses Sitorus, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana yang mendorong perguruan tinggi untuk membangun dan mengelola secara mandiri dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Ramses, langkah tersebut merupakan strategi tepat dalam memperkuat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah.
“Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyukseskan program MBG. Selain memiliki sumber daya manusia yang kompeten, kampus juga dinilai mampu menghadirkan inovasi serta sistem pengelolaan yang lebih profesional dalam operasional dapur SPPG,” ujar Ramses Sitorus dalam keterangannya, Jumat (1/5).
Lebih lanjut, Ramses menekankan bahwa keterlibatan kampus tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas layanan, tetapi juga membuka ruang pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa.
Dengan adanya dapur SPPG yang dikelola langsung oleh perguruan tinggi, mahasiswa dapat terlibat dalam berbagai aspek, mulai dari manajemen pangan, pengawasan kualitas, hingga distribusi makanan.
Menurutnya, konsep pembelajaran berbasis praktik ini sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. Mahasiswa tidak hanya memperoleh teori di ruang kelas, tetapi juga pengalaman langsung di lapangan yang dapat meningkatkan kompetensi mereka setelah lulus. “SPPG bisa menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan secara nyata,” ujar Ramses.
Ramses juga menyoroti bahwa SPPG tidak hanya berfungsi sebagai dapur penyedia makanan semata. Lebih dari itu, SPPG merupakan simpul ekonomi yang melibatkan banyak pihak dalam rantai produksinya.
Mulai dari petani, pemasok bahan pangan, hingga tenaga kerja lokal, semuanya terhubung dalam ekosistem yang saling mendukung.
Dengan kebutuhan produksi dalam jumlah besar, keberadaan SPPG dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Permintaan bahan baku yang tinggi akan menciptakan peluang usaha bagi pelaku UMKM serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Ramses menyebut hal ini sebagai efek berganda (multiplier effect) yang sangat positif.
Ia pun berharap agar pemerintah terus memperkuat sinergi dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan SPPG di berbagai wilayah. Dukungan regulasi, pendanaan, serta pendampingan teknis dinilai menjadi kunci agar program ini dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
Di akhir pernyataannya, Ramses menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan masyarakat merupakan fondasi utama dalam menyukseskan program MBG.
Dengan dukungan semua pihak, ia optimistis program ini tidak hanya mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi daerah secara berkelanjutan.