Jakarta, Antartika Media Indonesia – Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi meluncurkan aplikasi bernama “Reviu MBG” pada hari Kamis, sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan akuntabilitas pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peluncuran ini menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah memastikan setiap pangan yang disalurkan kepada masyarakat penerima manfaat memenuhi standar gizi, kebersihan, dan kesegaran yang telah ditetapkan.
Aplikasi “Reviu MBG” dirancang khusus agar setiap penerima manfaat program MBG dapat memberikan penilaian secara langsung dan mudah terhadap makanan yang mereka terima. Melalui fitur-fitur sederhana yang tersedia di dalamnya, pengguna dapat menilai berbagai aspek mulai dari rasa, suhu penyajian, kesegaran bahan baku, hingga kesesuaian kandungan gizi dengan ketentuan yang berlaku.
Selain penilaian berupa peringkat bintang, aplikasi ini juga menyediakan kolom komentar agar masyarakat dapat menyampaikan masukan, saran, maupun keluhan secara rinci mengenai layanan yang mereka dapatkan sehari-hari.
Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya menyampaikan bahwa kehadiran aplikasi ini merupakan wujud nyata komitmen lembaganya dalam menjaga kepercayaan publik terhadap program strategis nasional tersebut.
Menurutnya, program MBG tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga memastikan peningkatan kualitas gizi masyarakat, terutama anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya.
Oleh karena itu, umpan balik langsung dari penerima manfaat dianggap sebagai data paling valid dan penting untuk melakukan evaluasi serta perbaikan berkelanjutan di setiap tahapan penyaluran makanan.
Langkah inovatif ini mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan, salah satunya datang dari Ketua Umum Antartika Group, Ramses Sitorus. Dalam pernyataannya Ramses mengapresiasi langkah cepat dan tepat yang diambil oleh BGN.
Ia menilai, keberadaan aplikasi “Reviu MBG” adalah solusi yang sangat dibutuhkan oleh para penerima manfaat agar suara dan pendapat mereka didengar serta menjadi dasar perbaikan layanan. Transparansi yang dibangun melalui aplikasi ini juga dinilainya dapat menjamin hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan terbaik.
“Ketika penerima manfaat bisa menilai langsung, maka kualitas bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi harus benar-benar dijaga agar sesuai standar,” ujar Ramses Sitorus dalam keterangannya, Jumat (29/5).
Lebih lanjut Ramses menjelaskan, adanya sistem penilaian yang terbuka dan dapat diakses oleh semua pihak akan menciptakan mekanisme pengawasan ganda. Hal ini secara otomatis menuntut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta seluruh mitra kerja yang terlibat dalam rantai pasok program MBG untuk bekerja lebih profesional.
Setiap pihak yang bertanggung jawab dituntut untuk memastikan bahan makanan yang digunakan benar-benar segar, berkualitas tinggi, dan diproses serta disajikan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan oleh BGN.
Dengan adanya tekanan positif dari sistem penilaian tersebut, Ramses meyakini bahwa kualitas layanan program MBG akan terus meningkat dari waktu ke waktu.
“Kepatuhan terhadap SOP bukan sekadar kewajiban administrasi, melainkan bentuk tanggung jawab moral untuk menjamin kesehatan dan masa depan generasi penerus bangsa,” tambahnya.
Ramses menegaskan, jika ditemukan ketidaksesuaian atau kelalaian dalam penyediaan makanan, data dari aplikasi ini akan menjadi dasar yang kuat bagi BGN untuk melakukan evaluasi kinerja hingga memberikan sanksi tegas kepada pihak yang melanggar ketentuan yang berlaku.
BGN sendiri telah menegaskan bahwa seluruh data penilaian yang masuk melalui aplikasi akan dipantau secara berkala dan dijadikan acuan utama dalam menilai kinerja setiap SPPG maupun mitra kerja.
Pihak berwenang juga berjanji akan menindaklanjuti setiap laporan atau keluhan yang masuk dalam waktu singkat, agar permasalahan yang ada dapat segera diselesaikan dan tidak terulang kembali.
Sosialisasi mengenai cara penggunaan aplikasi ini juga akan digencarkan ke berbagai daerah, mengingat program MBG kini telah berjalan di hampir seluruh kabupaten dan kota di Indonesia.