Jakarta, Antartika Media Indonesia – Sebanyak 60 persen anak-anak di Indonesia diketahui belum memiliki akses memadai terhadap makanan bergizi seimbang dan tidak rutin mengonsumsi susu, hal ini menjadi tantangan besar dalam upaya meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.
Ketua Umum Antartika, Ramses Sitorus mengatakan kondisi ini berakar dari latar belakang pendidikan orang tua yang masih rendah, di mana mayoritas hanya tamat Sekolah Dasar (SD). Masalah ini bukan hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga memengaruhi kemampuan kognitif dan potensi masa depan anak-anak Indonesia.
Menurut Ramses, rendahnya tingkat pendidikan orang tua menjadi faktor penentu utama yang menyebabkan sulitnya pemenuhan kebutuhan gizi anak.
“Banyak anak-anak kita terlahir dari orang tua yang pendidikan terakhirnya hanya lulusan sekolah dasar. Tingkat pendidikan yang rendah ini berhubungan erat dengan pengetahuan yang terbatas tentang pentingnya gizi, serta kemampuan ekonomi yang kurang memadai untuk membeli makanan yang lengkap gizinya maupun susu,” ujarnya dalam keterangan pers yang digelar di Jakarta, Sabtu (30/5).
Ia menambahkan bahwa pemahaman yang minim mengenai pola makan sehat membuat banyak keluarga hanya menyajikan makanan yang mengenyangkan saja, tanpa mempedulikan kandungan nutrisi yang dibutuhkan tubuh anak untuk tumbuh kembang optimal.
Data pendukung yang dihimpun menunjukkan bahwa dari total anak yang tidak mendapatkan gizi cukup, sebagian besar tinggal di daerah pedesaan dan wilayah terpencil, namun masalah ini juga masih tinggi terjadi di kawasan perkotaan dengan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Menu harian yang dikonsumsi umumnya hanya didominasi karbohidrat seperti nasi, mi, atau singkong, dengan lauk yang sederhana dan jarang mengandung protein hewani maupun nabati yang cukup. Susu, yang merupakan sumber kalsium dan protein penting, dianggap barang mewah dan jarang masuk dalam daftar belanja keluarga, bukan karena tidak mau, melainkan karena tidak mampu membelinya secara rutin.
Dampak dari kondisi ini sangat nyata dan mengkhawatirkan. Angka gizi kurang, gizi buruk, serta kasus stunting atau pertumbuhan terhambat masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang tinggi di Indonesia. Anak-anak yang kekurangan gizi berisiko lebih besar terkena penyakit, memiliki daya tahan tubuh lemah, serta mengalami keterlambatan dalam perkembangan kecerdasan dan kemampuan belajar.
“Anak yang sejak kecil kurang gizi dan jarang minum susu, saat masuk sekolah sering kali sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan prestasi belajarnya cenderung tertinggal dibandingkan teman sebayanya yang gizi terpenuhi,” jelas Ketua Umum Antartika, menegaskan bahwa masalah ini adalah ancaman nyata bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Hubungan antara pendidikan orang tua dan pemenuhan gizi anak juga diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik. Rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia baru mencapai sekitar 9 tahun atau setara Sekolah Menengah Pertama, namun masih banyak wilayah dengan angka rata-rata hanya sampai lulus SD.
Semakin rendah pendidikan orang tua, semakin besar risiko anak mengalami masalah gizi. Hal ini terjadi karena orang tua dengan pendidikan rendah umumnya memiliki pekerjaan dengan penghasilan terbatas, sulit mendapatkan informasi kesehatan yang benar, dan kurang paham cara mengolah makanan sederhana namun tetap bernutrisi tinggi.
Bahkan, banyak yang belum tahu bahwa kebutuhan gizi yang baik sangat krusial terutama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan, yang menjadi fondasi utama kesehatan seumur hidup.
Organisasi Antartika menilai bahwa pemecahan masalah ini tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak saja, melainkan butuh kerja sama lintas sektor. Mereka mendukung penuh program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis yang bertujuan menjamin akses makanan sehat bagi anak-anak sekolah dan kelompok rentan.
Selain itu, Antartika juga mengusulkan perlunya program peningkatan pengetahuan gizi bagi orang tua, khususnya di daerah yang tingkat pendidikannya masih rendah. Penyuluhan sederhana dan praktis tentang cara memilih, mengolah, dan menyajikan makanan bergizi dengan biaya terjangkau dianggap langkah awal yang sangat efektif untuk mengubah kebiasaan makan keluarga.
Ramses juga menekankan bahwa susu bukan satu-satunya sumber nutrisi, namun keberadaannya sangat membantu pemenuhan kebutuhan protein dan kalsium.
“Kita juga harus mengajarkan masyarakat bahwa gizi seimbang bisa didapat dari bahan makanan lokal yang murah seperti ikan, tahu, tempe, dan sayuran hijau. Yang terpenting adalah pemahaman bahwa variasi makanan itu wajib ada,” tambahnya.
Kami berharap ke depannya, angka anak yang tidak memiliki akses gizi dan susu bisa turun drastis, sehingga anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat, cerdas, dan kuat, siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Di akhir pernyataannya, ia mengingatkan bahwa investasi di bidang pendidikan orang tua dan pemenuhan gizi anak adalah investasi masa depan bangsa.
“Jika hari ini kita biarkan anak-anak tumbuh dengan gizi kurang, maka sepuluh atau dua puluh tahun lagi kita akan menghadapi generasi yang lemah dan kurang cerdas. Mari bersama-sama bergerak, mulai dari meningkatkan pengetahuan hingga memastikan akses makanan bergizi terpenuhi untuk semua anak Indonesia,” tutupnya.