Jakarta, Antartika Media Indonesia – Rencana kebijakan yang mengusulkan penghentian sementara operasional dapur pelayanan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah menuai penolakan tegas dari sejumlah mitra kerja Badan Gizi Nasional (BGN). Para pengelola dapur menilai langkah tersebut tidak tepat dan justru berpotensi menimbulkan kerugian besar dari berbagai sisi, baik secara finansial maupun operasional.
Penolakan ini kemudian mendapat dukungan dan penegasan dari Ketua Umum Antartika, Ramses Sitorus. Ia menyatakan bahwa keputusan untuk menghentikan aktivitas dapur hanya karena siswa sedang libur tidak bisa diambil secara sepihak tanpa mempertimbangkan keseluruhan aspek yang terlibat dalam pendirian fasilitas tersebut.
“Kita harus melihat fakta di lapangan: investasi yang dikeluarkan oleh para mitra dan investor untuk membangun, melengkapi, serta menyiapkan dapur ini nilainya tidak sedikit. Dana yang ditanamkan bukan hanya untuk penggunaan beberapa bulan saja, melainkan direncanakan untuk operasional jangka panjang guna mendukung keberlangsungan program,” tegas Ramses dalam keterangan persnya, Jumat (19/6).
Ia menjelaskan bahwa pembangunan satu unit dapur yang memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan memerlukan biaya besar, mulai dari pembangunan gedung, pengadaan peralatan masak, sistem penyimpanan bahan makanan, hingga pelatihan tenaga pengelola. Jika dibiarkan tidak beroperasi dalam waktu lama selama libur, maka nilai investasi tersebut tidak akan berputar sebagaimana mestinya.
Selain aspek keuangan, Ramses juga mengingatkan bahwa menghentikan operasional secara total kemudian menyalakannya kembali membutuhkan proses persiapan ulang yang tidak mudah. Dapur yang tidak dipakai secara rutin justru berisiko menurunkan kualitas peralatan, menimbulkan masalah kebersihan, serta mengganggu kesiapan tenaga kerja yang sudah terlatih.
“Kalau dibangunnya butuh biaya besar, tapi saat tidak ada kegiatan dibiarkan menganggur, itu sama saja menyia-nyiakan aset yang sudah ada. Belum lagi, ketika sekolah masuk kembali, butuh waktu dan biaya tambahan untuk memulihkan kondisi dapur agar siap beroperasi kembali seperti semula,” lanjutnya.
Menurut Ramses, alasan libur sekolah tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan sepenuhnya fungsi dapur. Ia mengusulkan agar selama masa libur, dapur tetap beroperasi dengan skala yang disesuaikan, misalnya menyalurkan makanan bagi kelompok anak lain yang membutuhkan atau menjaga kesiapan fasilitas, sehingga investasi yang telah dikeluarkan tetap memberikan manfaat dan tidak terbuang percuma.
“Para mitra dan investor telah menaruh kepercayaan besar pada program ini. Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama agar investasi yang mereka keluarkan dijaga dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Kebijakan yang diambil harus mempertimbangkan kepentingan semua pihak, termasuk mereka yang telah mendukung dari sisi pendanaan dan sarana,” pungkas Ramses.
Ia juga meminta BGN untuk segera membuka ruang diskusi dengan seluruh mitra kerja guna mencari solusi terbaik. Dengan komunikasi yang baik, diharapkan dapat ditemukan jalan tengah yang menjaga keberlangsungan program sekaligus melindungi nilai investasi yang sudah ditanamkan demi masa depan pelayanan gizi yang lebih baik.