Jakarta, Antartika Media Indonesia – Ketua Umum Antartika Group, Ramses Sitorus, menyatakan dukungannya terhadap langkah Badan Gizi Nasional (BGN) yang melakukan uji coba penggunaan kamera pengawas atau CCTV berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di 70 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah tersebut dinilai sebagai upaya strategis untuk memperkuat pengawasan operasional dapur sekaligus mencegah terjadinya kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Ramses, pemanfaatan teknologi digital dalam pengawasan dapur merupakan langkah yang patut diapresiasi, terutama di tengah munculnya laporan kasus dugaan keracunan makanan di sejumlah daerah. Pengawasan yang lebih ketat dibutuhkan agar setiap proses penyediaan makanan bagi para penerima manfaat dapat berjalan sesuai standar keamanan pangan, kebersihan, dan kesehatan.
Ia menilai, pengawasan berbasis CCTV yang terintegrasi dengan sistem AI berpotensi membantu pihak terkait memantau aktivitas dapur secara lebih efektif. Dengan sistem tersebut, pelaksanaan prosedur operasional standar atau SOP dapat diawasi secara lebih konsisten, mulai dari persiapan bahan makanan, proses pengolahan, pemorsian, hingga makanan didistribusikan kepada para penerima manfaat.
“Antartika mendukung langkah BGN dalam memperkuat pengawasan dapur melalui pemanfaatan teknologi. Keselamatan anak-anak dan seluruh penerima manfaat harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai program yang memiliki tujuan baik justru terganggu akibat lemahnya pengawasan terhadap proses pengolahan dan distribusi makanan,” ujar Ramses Sitorus dalam keterangannya, Sabtu (24/10/2026).
Ramses juga mengimbau seluruh mitra pengelola SPPG agar lebih serius dan disiplin dalam menjalankan SOP yang telah ditetapkan. Ia menegaskan, kepatuhan terhadap prosedur tidak boleh hanya dilakukan ketika ada pemeriksaan, melainkan harus menjadi budaya kerja sehari-hari bagi seluruh petugas dapur. Menurutnya, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), seperti penutup kepala, masker, sarung tangan sesuai kebutuhan, serta pakaian kerja yang bersih, harus menjadi perhatian utama dalam menjaga higienitas makanan.
Selain penggunaan APD, Ramses meminta para mitra memastikan bahan baku yang digunakan benar-benar layak konsumsi, segar, berkualitas, dan disimpan sesuai standar keamanan pangan. Proses penerimaan bahan, pemeriksaan kualitas, penyimpanan, pencucian, hingga pengolahan harus dilakukan secara benar. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan peralatan masak, area kerja, sumber air, serta fasilitas sanitasi agar potensi kontaminasi makanan dapat ditekan semaksimal mungkin.
Dalam hal distribusi, Ramses mengingatkan agar mitra tidak menganggap proses pengawasan selesai setelah makanan dimasak. Pengemasan, kebersihan wadah, ketepatan waktu pengiriman, serta kondisi makanan selama perjalanan harus diperhatikan secara serius. Seluruh tahapan tersebut merupakan satu kesatuan yang menentukan keamanan makanan sebelum diterima oleh anak-anak sekolah dan kelompok penerima manfaat lainnya.
Ia berharap uji coba CCTV berbasis AI di 70 dapur tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memperluas pengawasan yang lebih efektif dan terukur. Ramses juga menilai bahwa teknologi harus diikuti dengan evaluasi berkala, pembinaan terhadap petugas, serta tindakan tegas sesuai ketentuan apabila ditemukan pelanggaran SOP. Dengan demikian, sistem pengawasan tidak berhenti pada pemantauan visual, tetapi benar-benar menghasilkan perbaikan nyata di lapangan.
“Para mitra harus memahami bahwa menjalankan dapur MBG bukan sekadar memasak dan mendistribusikan makanan. Ada tanggung jawab besar terhadap kesehatan dan keselamatan penerima manfaat. Karena itu, jangan pernah mengabaikan SOP, sekecil apa pun pelanggarannya. Kita harus mengutamakan kualitas, kebersihan, dan keamanan makanan,” tegas Ramses.
Ramses menambahkan, keberhasilan program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari kualitas, kandungan gizi, dan jaminan keamanannya. Ia mengajak BGN, kepala SPPG, mitra yayasan, tenaga pengolah makanan, serta seluruh pihak terkait untuk memperkuat koordinasi dan membangun budaya kerja yang profesional serta bertanggung jawab.
Ia optimistis, apabila pemanfaatan teknologi berjalan beriringan dengan kedisiplinan seluruh pengelola dapur, pengawasan yang transparan, dan penegakan standar keamanan pangan, program MBG akan semakin baik dalam pelaksanaannya. “Tujuan utama kita adalah memastikan makanan yang sampai kepada anak-anak benar-benar aman, bergizi, dan layak dikonsumsi. Keselamatan penerima manfaat harus selalu berada di atas kepentingan apa pun,” pungkas Ramses.