Jakarta, Antartika Media Indonesia – Ketua Umum Antartika, Ramses Sitorus, mengkritik metode survei yang digunakan IndexMundi Global Surveys. Menurutnya, hasil survei yang diperoleh melalui mekanisme riset daring terbuka tidak dapat dijadikan acuan ilmiah karena memiliki kelemahan mendasar dari sisi metodologi.
Ramses menilai sebuah survei harus memenuhi prinsip-prinsip penelitian ilmiah, mulai dari pemilihan sampel yang representatif hingga proses verifikasi responden. Tanpa standar tersebut, hasil survei berpotensi menghasilkan kesimpulan yang bias dan tidak mencerminkan kondisi masyarakat secara menyeluruh.
“Survei berbasis open web polling sangat rentan terhadap bias. Jika responden dipilih secara sukarela melalui internet tanpa kontrol yang ketat, maka hasilnya tidak bisa menggambarkan opini publik secara objektif,” kata Ramses, Rabu (8/7).
Ia menjelaskan bahwa metode survei daring terbuka hanya menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki akses internet serta kemauan untuk berpartisipasi. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan sampling bias karena tidak seluruh lapisan masyarakat memiliki peluang yang sama untuk menjadi responden.
Selain itu, Ramses juga menyoroti lemahnya mekanisme verifikasi identitas responden dalam survei online terbuka. Menurutnya, tanpa sistem pengendalian yang memadai, terdapat peluang satu orang mengisi survei lebih dari satu kali sehingga dapat memengaruhi hasil akhir.
Ramses menegaskan kritik yang disampaikannya bukan ditujukan terhadap substansi isu yang diangkat dalam survei, melainkan terhadap kualitas metodologi penelitian. Ia menilai setiap hasil survei yang dipublikasikan kepada masyarakat harus dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
Karena itu, Ramses mendorong agar masyarakat maupun para pengambil kebijakan lebih mengutamakan hasil riset dari lembaga yang menggunakan metode ilmiah yang transparan, memiliki sampel representatif, serta memenuhi kaidah statistik sehingga hasilnya benar-benar dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan. Pernyataan tersebut sejalan dengan kritik sejumlah akademisi yang menilai survei online terbuka memiliki kelemahan metodologis, seperti potensi bias sampel dan rendahnya kontrol terhadap responden.