Jakarta, Antartika Media Indonesia – Ketua Umum Aliansi Anti Narkoba dan Tindak Korupsi Anggaran (ANTARTIKA), Ramses Sitorus, menyatakan bahwa peringatan keras yang disampaikan oleh Denny Charter terkait keberadaan Danantara yang disebut berpotensi mematikan kompetisi sektor swasta dinilai sangat tidak relevan dan tidak berdasar. Menurutnya, pandangan tersebut tidak mencerminkan arah kebijakan pemerintah maupun realitas pengembangan industri nasional saat ini.
“Danantara justru dirancang sebagai instrumen strategis negara untuk memperkuat ekosistem industri nasional, bukan untuk menyingkirkan peran swasta,” ungkap Ramses menanggapi peryataan Denny Charter, Senin (19/1/2026).
Ramses mengatakan bahwa kehadiran Danantara harus dilihat dalam kerangka kolaborasi antara negara dan sektor swasta, terutama dalam mendorong investasi jangka panjang dan transformasi industri.
Ia menjelaskan bahwa dalam berbagai negara maju, peran negara melalui badan strategis merupakan praktik umum untuk memperkuat daya saing nasional. Dalam konteks Indonesia, Danantara diposisikan sebagai katalis yang membuka ruang partisipasi lebih luas bagi sektor swasta, bukan sebagai pesaing yang bersifat monopolistik.
Ketum Antartika juga menyoroti fakta bahwa Danantara justru mendapat pengakuan di tingkat global. Salah satunya dengan diberikannya ruang oleh World Economic Forum (WEF) kepada Danantara untuk menawarkan dan mempresentasikan visi manufaktur hijau Indonesia di forum internasional tersebut. Hal ini dinilai sebagai bukti kredibilitas dan relevansi Danantara dalam agenda global.
“Kepercayaan WEF menunjukan bahwa Danantara dipandang sebagai mitra strategis dalam mendorong transisi industri berkelanjutan. Fokus pada manufaktur hijau dinilai sejalan dengan tuntutan global terhadap ekonomi rendah karbon dan pembangunan berkelanjutan,” tambahnya.
Ketum Antartika menilai kritik yang menyebut Danantara dapat mematikan kompetisi justru berpotensi menyesatkan opini publik. Ia mengingatkan bahwa tantangan utama industri nasional saat ini adalah lemahnya struktur manufaktur dan ketergantungan pada sektor hulu, sehingga diperlukan peran negara yang kuat namun tetap inklusif.
Ia juga menekankan bahwa regulasi dan mekanisme pengawasan tetap menjadi instrumen penting untuk memastikan Danantara berjalan secara profesional, transparan, dan akuntabel. Dengan tata kelola yang baik, Danantara diyakini dapat menjadi penggerak pertumbuhan tanpa mengorbankan iklim usaha.
Menutup pernyataannya, Ketum Antartika mengajak seluruh pihak untuk melihat Danantara secara objektif dan konstruktif. Ia berharap diskursus publik tidak terjebak pada kekhawatiran yang berlebihan, melainkan diarahkan pada upaya bersama membangun industri nasional yang berdaya saing, hijau, dan berkelanjutan. Agus