“Stunting (Anak Pendek) Bukan Hanya Soal Gizi, Pola Asuh dan Edukasi Berperan Penting”

Semarang, mediaantartika.id – Diskusi terkait peluncuran Buku Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku dan Sosial untuk Pencegahan Stunting di Jateng telah mengungkapkan bahwa kasus stunting pada anak-anak tidak semata-mata terkait dengan defisit pemberian gizi. Faktor pola asuh orang tua dan tingkat edukasi juga memiliki pengaruh signifikan. Bahkan di kalangan berpenghasilan mampu pun, kasus stunting tetap terjadi.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Jateng, Yuni Rahayuningtyas, menyoroti permasalahan ini dalam diskusi yang diadakan di Hotel Aston Semarang. Diskusi juga dihadiri oleh Kepala Perwakilan BKKBN Jateng, Eka Sulistya, Ketua Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI), Anung Sugihantono, dan perwakilan dari Tanoto Foundation, Eddy Henry.

Menurut Yuni, kasus stunting di provinsi Jawa Tengah tidak hanya terbatas pada keluarga miskin. Meskipun sebagian besar kasus stunting masih terjadi pada keluarga miskin, ada juga sebagian keluarga berpenghasilan mampu yang menghadapi masalah stunting. Penyebabnya bukanlah karena kurangnya asupan gizi semata, tetapi juga akibat kurangnya edukasi tentang pola asuh yang baik.

Yuni menyampaikan data bahwa hanya sekitar 10-15 persen dari kepala keluarga yang terkait dengan kemiskinan ekstrem. Sementara itu, 20,8 persen dari masalah stunting berada pada keluarga menengah ekonomi yang seharusnya mampu memenuhi kebutuhan gizi anak. Faktor edukasi menjadi perhatian penting dalam mengatasi masalah ini.

Dalam upaya mencegah stunting, sebanyak 24 kabupaten/kota dari total 35 kabupaten/kota di Jateng telah memiliki strategi komunikasi pencegahan stunting. Yuni berharap agar strategi ini dapat tepat sasaran dan berhasil menanggulangi masalah stunting yang ada.

(Jay/*Red)

Sumber: Humas Jateng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *