Jakarta, Antartika Media Indonesia – Ketua Umum Aliansi Anti Narkoba dan Tindak Korupsi Anggaran (ANTARTIKA), Ramses Sitorus, memuji sikap Presiden Prabowo Subianto yang secara terbuka meminta maaf kepada para menterinya. Permintaan maaf tersebut disampaikan karena Presiden mengakui dirinya kerap melakukan micromanagement atau terlalu mengawasi serta mengontrol pekerjaan para pembantunya di kabinet.
Menurut Ramses, langkah yang diambil Presiden Prabowo merupakan sikap yang jarang ditunjukkan oleh seorang pemimpin di tingkat tertinggi. Ia menilai pengakuan tersebut mencerminkan adanya kesadaran diri dan kerendahan hati dalam menjalankan roda pemerintahan.
“Apa yang ditunjukan Presiden Prabowo merupakan bukan sosok pemimpin yang arogan maupun otoriter. Justru sebaliknya, sikap terbuka dalam mengakui kekurangan dinilai sebagai bentuk kepemimpinan yang dewasa dan berorientasi pada perbaikan kinerja pemerintahan,” ungkap Ramses Sitorus dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026).
Ramses juga menilai bahwa budaya micromanagement memang kerap terjadi dalam sistem pemerintahan yang dinamis, terutama ketika seorang pemimpin ingin memastikan program berjalan sesuai dengan visi yang telah ditetapkan. Namun, ia menekankan bahwa kemampuan untuk mengevaluasi diri menjadi kunci penting dalam menjaga keseimbangan kerja tim.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa permintaan maaf tersebut dapat berdampak positif terhadap hubungan kerja antara Presiden dan para menteri.
“Dengan adanya sikap saling menghargai dan terbuka, koordinasi di dalam kabinet diyakini akan menjadi lebih efektif dan produktif,” tambahnya.
Selain itu, Ramses menilai langkah ini dapat menjadi contoh bagi para pemimpin di berbagai level, baik di pemerintahan maupun sektor lainnya. Ia mengatakan bahwa kepemimpinan modern menuntut adanya komunikasi dua arah serta penghormatan terhadap profesionalisme tim.
Di akhir pernyataannya, Ramses berharap sikap yang ditunjukkan Presiden Prabowo dapat terus dipertahankan dan menjadi bagian dari budaya kepemimpinan nasional. Ia meyakini bahwa dengan pendekatan yang humanis dan tidak otoriter, pemerintahan akan mampu berjalan lebih solid serta menghasilkan kebijakan yang berpihak pada masyarakat luas.
Apa itu micromanagement?
Dikutip dari laman Kementerian Keuangan, Kamis (20/6/2024), manajemen mikro atau micromanagement adalah kepemimpinan yang melibatkan kontrol berlebihan dan sangat memperhatikan detail. Micromanager memantau dengan cermat semua yang dilakukan oleh setiap anggota timnya.
Contohnya, pemimpin selalu ingin tahu apa yang sedang anggotanya lakukan saat ini, sudah sampai mana proses suatu pekerjaan, dan cenderung ikut serta dalam pengerjaan tugas yang sudah didelegasikan kepada anggota tim.
Micromanager tidak memercayai karyawannya untuk mengambil keputusan paling mendasar sekalipun dan meragukan kemampuan atau kompetensi mereka.
Hal ini melemahkan otonomi karyawan dan dapat menciptakan lingkungan kerja toxic alias tidak sehat. Memiliki atasan yang menerapkan micromanagement berarti dia tidak dapat mendelegasikan tugas, kurang memiliki keterampilan komunikasi dengan sesama karyawan atau bawahan, dan dapat menjadi sangat kritis, sehingga menurunkan semangat kerja dan menghambat produktivitas.