Jakarta, Antartika Media Indonesia – Ketua Umum Aliansi Anti Narkoba dan Tindak Korupsi Anggaran (ANTARTIKA), Ramses Sitorus mengatakan bawah program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berkembang menjadi salah satu intervensi sosial-ekonomi terbesar di Indonesia. Menurutnya, program ini tidak lagi sekadar menjadi kebijakan pemenuhan gizi anak, tetapi telah menjelma sebagai penggerak ekonomi rakyat di berbagai daerah.
Ramses menekankan bahwa sejak diluncurkan, MBG membawa dampak nyata terhadap peningkatan kualitas gizi anak-anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya.
“Yang tak kalah penting dari program ini ialah turut menghidupkan aktivitas ekonomi lokal, mulai dari sektor pertanian, peternakan, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di tingkat desa,”ungkap Ramses Sitorus kepada awak media, Rabu (14/1/2026).
Lebih lanjut, Ramses menjelaskan bahwa pola belanja bahan pangan yang dilakukan secara rutin dan terstruktur melalui MBG menciptakan kepastian pasar bagi para petani dan produsen lokal. Dengan demikian, desa tidak hanya menjadi objek penerima bantuan, tetapi juga menjadi subjek utama dalam rantai pasok pangan nasional.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, memaparkan proyeksi ambisius program MBG untuk tahun 2026. Ia menyebutkan bahwa perputaran dana harian MBG berpotensi mencapai Rp 1,2 triliun. Dana tersebut akan mengalir langsung ke desa-desa melalui ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Kita akan mengejar target hak anak Indonesia untuk memperoleh gizi dengan menu seimbang sebanyak 82,9 juta penerima manfaat. Kami asumsikan itu bisa dicapai di paruh pertama tahun 2026. Mudah-mudahan Mei sudah tercapai,” jelas Dadan.
Dadan menjelaskan bahwa keberadaan SPPG menjadi kunci utama dalam memastikan distribusi manfaat ekonomi berjalan merata. Setiap SPPG melibatkan tenaga kerja lokal, pemasok bahan pangan setempat, serta pelaku usaha kecil, sehingga menciptakan efek berganda yang berkelanjutan bagi perekonomian daerah.
Selain dampak ekonomi, Dadan juga menegaskan bahwa MBG dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan mengutamakan bahan pangan lokal, program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada pasokan luar daerah sekaligus meningkatkan nilai tambah produk pertanian desa.
Ramses menutup dengan menegaskan pentingnya pengawasan dan tata kelola yang transparan agar target besar tersebut dapat tercapai. Ia optimistis, dengan kolaborasi lintas sektor dan dukungan masyarakat, program MBG dapat menjadi fondasi kuat bagi pembangunan sumber daya manusia sekaligus pendorong utama ekonomi desa di masa depan. Agus