Jakarta, Antartika Media Indonesia – Ketua Umum Antartika Group, Ramses Sitorus, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan Kepala Badan Gizi Nasional terkait penyesuaian menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan.
Kebijakan tersebut mengatur bahwa menu yang dibagikan kepada para siswa selama Ramadan harus berupa makanan kering atau siap makan (ready to eat).
Hal ini dikatakan Dadan Hindayana saat dimintai tanggapan soal menu MBG yang berisi lele mentah di SMAN 2 Pamekasan, Jawa Timur, Dadan mengatakan hal itu tak sesuai dengan apa yang tertuang dalam petunjuk teknis.
Ramses menilai langkah yang diambil oleh BGN merupakan bentuk penyesuaian yang tepat dengan kondisi siswa yang menjalankan ibadah puasa. Dengan menu yang bersifat kering dan siap konsumsi, makanan dapat disimpan terlebih dahulu oleh siswa untuk dikonsumsi saat waktu berbuka puasa.
Dalam pedoman yang disampaikan oleh BGN, beberapa contoh menu yang disarankan antara lain kurma, abon, buah-buahan yang tahan lama, serta telur rebus.
“Menu tersebut dinilai praktis, mudah disimpan, dan tetap memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan oleh para siswa,” ungkap Ramses Sitorus dalam keterangannya, Jumat (13/3/2026).
Menurut Ramses, penyesuaian menu selama Ramadan menunjukkan bahwa pemerintah melalui BGN terus melakukan evaluasi dan perbaikan dalam pelaksanaan program MBG agar tetap relevan dengan kondisi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut juga mempertimbangkan aspek kesehatan, ketahanan makanan, serta kemudahan distribusi.
Selain itu, Ramses juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh potongan video yang beredar di media sosial terkait menu MBG. Ia menyebut banyak video yang beredar hanya menampilkan sebagian informasi sehingga menimbulkan persepsi yang tidak utuh di tengah masyarakat.
“Jangan menyebarluaskan video menu MBG yang hanya sepotong-sepotong karena hal itu dapat menimbulkan kesalahpahaman. Kita harus melihat secara utuh kebijakan dan pedoman yang telah disusun oleh BGN,” ujar Ramses.
Ia menambahkan bahwa kritik dan masukan dari masyarakat tetap diperlukan untuk menyempurnakan program tersebut, namun harus disampaikan secara konstruktif dan berdasarkan informasi yang lengkap. Menurutnya, penyebaran informasi yang tidak utuh justru dapat memicu polemik yang tidak produktif.
Ramses berharap masyarakat dapat mendukung program MBG yang menjadi salah satu program strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Dengan dukungan semua pihak, ia optimistis program tersebut dapat berjalan lebih baik dan memberikan manfaat nyata bagi generasi muda. Agus