Jakarta, Antartika Media Indonesia – Ketua Umum Aliansi Anti Narkoba dan Tindak Korupsi Anggaran (ANTARTIKA), Ramses Sitorus menyoroti potensi ancaman krisis ekonomi global akibat meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz.
Ramses menilai situasi tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia karena jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia.
“Jika konflik semakin meluas dan berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, maka harga minyak dunia berpotensi melonjak dan memberikan tekanan serius terhadap perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia,” ungkap Ramses dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).
Menurut Ramses, ketegangan yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu gangguan pasokan energi global.
Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Apabila jalur tersebut terganggu akibat konflik militer atau blokade, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan, tetapi juga negara importir energi seperti Indonesia yang masih sangat bergantung pada pasokan minyak dari luar negeri.
Selain ancaman terhadap stabilitas ekonomi, Ramses juga mengingatkan bahwa konflik geopolitik modern kini tidak hanya terjadi di medan militer, tetapi juga bergeser ke ruang digital.
“Narasi propaganda, disinformasi, dan perang opini di media sosial dapat memperburuk situasi dengan memicu polarisasi di tengah masyarakat,” tambahnya.
Menurutnya, konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan propaganda atau informasi yang memecah belah publik.
Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam menyaring informasi yang beredar di dunia digital agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu global yang dibingkai secara manipulatif.
Ramses meminta Indonesia untuk menyiapkan strategi mitigasi yang komprehensif guna menghadapi kemungkinan dampak krisis global tersebut.
Langkah tersebut mencakup penguatan ketahanan energi nasional, stabilisasi harga pangan dan energi, serta peningkatan literasi digital masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi provokatif.
“Pemerintah perlu mengantisipasi berbagai skenario terburuk sejak dini, baik dari sisi ekonomi maupun stabilitas sosial,” lanjutnya.
Menurut Ramses, kesiapan pemerintah dalam menghadapi potensi krisis global akan menjadi kunci agar Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Agus