Jakarta, Antartika Media Indonesia – Ketua Umum Aliansi Anti Narkoba dan Tindak Korupsi Anggaran (ANTARTIKA), Ramses Sitorus, menyampaikan apresiasi terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan arah baru pendidikan nasional ke depan sebagai pendidikan berbasis hibrida. Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi langkah visioner dalam menjawab tantangan pendidikan di era digital.
Ramses menilai bahwa Indonesia saat ini tengah berada dalam fase percepatan digitalisasi pendidikan. Transformasi ini dianggap penting untuk mengurai berbagai persoalan klasik yang selama ini membelit sistem pendidikan, termasuk kesenjangan akses dan kualitas antarwilayah.
“Ketimpangan pendidikan di Indonesia masih menjadi masalah utama, terutama di daerah terdepan, terluar, dan terpencil (3T). Dengan pendekatan berbasis hibrida yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dan digital, peluang untuk menghadirkan pemerataan pendidikan menjadi semakin terbuka,” ungkap Ramses Sitorus dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).
Menurut Ramses, masa depan pendidikan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan peserta didik dalam mengakses perangkat digital secara mandiri dan terorganisir. Ia menekankan bahwa akses tersebut harus didukung oleh infrastruktur yang memadai serta sistem pembelajaran yang adaptif.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa teknologi memiliki kekuatan besar untuk meruntuhkan berbagai hambatan birokrasi yang selama ini menghambat distribusi kualitas pendidikan. Dengan pemanfaatan teknologi yang tepat, proses pembelajaran dapat menjadi lebih efisien dan inklusif.
“Sistem digital memungkinkan guru-guru terbaik menjangkau siswa di berbagai pelosok negeri, termasuk mereka yang selama ini sulit mendapatkan akses pendidikan berkualitas. Hal ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan mutu pendidikan secara merata,” tambahnya.
Ia berharap dengan kebijakan pendidikan berbasis hibrida yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo, tidak ada lagi anak Indonesia yang tertinggal hanya karena faktor geografis. Kualitas pendidikan, menurutnya, harus ditentukan oleh kemampuan dan potensi siswa, bukan oleh “kode pos” tempat mereka tinggal.
Dengan arah kebijakan tersebut, Antartika optimistis bahwa Indonesia dapat menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil, inklusif, dan berdaya saing global. Transformasi ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam membangun generasi masa depan yang unggul dan siap menghadapi tantangan zaman. Agus