Jakarta, Antartika Media Indonesia – Ketua Umum Antartika Group, Ramses Sitorus menyampaikan apresiasi terhadap langkah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana yang tengah mengkaji perluasan penerima manfaat Program Makan Bergizi (MBG).
Kajian tersebut mencakup anak-anak korban pernikahan dini hingga mereka yang mengalami putus sekolah agar tetap mendapatkan akses pemenuhan gizi yang layak.
Menurut Ketum Antartika Group, langkah ini menunjukkan komitmen BGN dalam memastikan tidak ada anak yang terlewat dari intervensi pemenuhan gizi nasional.
“Kelompok anak yang terdampak pernikahan dini maupun putus sekolah merupakan kategori rentan yang selama ini sering luput dari perhatian program berbasis sekolah,” ujar Ramses Sitorus dalam siaran persnya yang diterima awak media, Minggu (15/2/2026).
Selama ini, Program MBG banyak difokuskan pada peserta didik aktif di satuan pendidikan formal. Namun, realitas sosial di sejumlah daerah menunjukkan masih tingginya angka pernikahan dini dan putus sekolah, yang berdampak langsung pada kondisi kesehatan dan masa depan generasi muda.
Ketum Antartika Group menegaskan bahwa anak-anak yang menikah di usia dini kerap menghadapi tantangan gizi serius, terutama bagi anak perempuan yang kemudian memasuki masa kehamilan di usia muda.
Kondisi tersebut berisiko memicu stunting dan masalah kesehatan jangka panjang jika tidak diimbangi dengan asupan gizi yang memadai.
Ia juga menyoroti anak-anak yang terpaksa putus sekolah karena faktor ekonomi. Tanpa akses pendidikan formal, mereka otomatis kehilangan peluang menerima manfaat program berbasis sekolah, termasuk MBG.
“Perluasan skema penerima manfaat dinilai sebagai langkah strategis dan berkeadilan,” lanjutnya.
Dalam keterangannya, Ketum Antartika Group menyebut kajian yang dilakukan Kepala BGN sebagai bentuk kebijakan progresif. Ia berharap pendekatan pendataan dan verifikasi dilakukan secara akurat agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan tidak menimbulkan tumpang tindih dengan program sosial lainnya.
Selain itu, Antartika Group mendorong adanya kolaborasi lintas kementerian dan pemerintah daerah dalam implementasi kebijakan tersebut. Sinergi dinilai penting untuk menjangkau anak-anak rentan yang tidak lagi tercatat dalam sistem pendidikan formal, tetapi tetap membutuhkan perhatian negara.
Dengan perluasan cakupan ini, Program MBG diharapkan semakin inklusif dan mampu menjawab tantangan sosial yang kompleks. Ketum Antartika Group optimistis, apabila kebijakan ini direalisasikan, dampaknya tidak hanya pada peningkatan status gizi anak, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang. Agus