Adu Dalil Sebut ‘Ada Kecurangan’, Politisi Muda Ini Sebut Anies-Ganjar Seperti Token Listrik

Jakarta, Mediaantartika.id – Ganjar yang pernah menyebut demokrasi mengalami pemerosotan kini, pihak Pemohon Satu, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dan Pemohon Dua, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, meminta agar sejumlah menteri dihadirkan dalam sidang sengketa hasil Pilpres 2024 di Mahkamah Konstitusi.

Menanggapi kejadian ini, Politisi dari Partai Solidaritas Indonesia, Samuel Marpaung menyebut Anies-Ganjar sudah kehilangan akal sehat.

“Menanggapi hal itu, Ganjar dan Anies memang sejak awal tidak menerima hasil putusan. Sejak awal juga mereka telah mendesign narasi yang akan dikemas bila terjadi kemungkinan buruk, yaitu narasi demokrasi di jaman pak Jokowi semakin sempit,” kata Samuel Marpaung ketika diwawancarai, Kamis (4/4).

Dalam perkara ini, ada empat orang menteri yang diminta oleh pihak Pemohon Satu untuk dihadirkan ke persidangan. Mereka adalah Menteri Keuangan, Sri Mulyani; Menteri Sosial, Tri Rismaharini; Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto; dan Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan.

Menurut Samuel Marpaung, dia yakin MK akan tetap objektif dan menolak permohonan dua kubu tersebut. Baginya, Anies-Ganjar juga telah merancang sebuah langkah alternatif bila mereka mengalami kekalahan.

“Mereka itu sebenarnya tau kekalahan mereka sejak awal. Kita yakin MK akan berlaku objektif dan menolak permohonan dua kubu itu. Begini, ada baiknya kita melihat langkah Ganjar sebelumnya sehingga kita berani mengatakan hal ini telah di design juga. Awal dari kebisingan ini dimana dia menaikkan statement bahwa dia tidak percaya quick count. Pada kemenganan pilgub di Jateng pertama, secara langsung dia menyatakan diri menang karena ia mengaku dan percaya kepada quick count. Lanjut ketika Ganjar menang Pilgub untuk kedua kalinya, ia tetap bersandar pada quick count”, ujarnya.

“Demikian juga ketika Anies tengah bersaing pada Pilgub melawan Ahok. Anies juga percaya kepada quick count. Jadi, semua ini telah di design sebagai jalan alternatif mereka demi merebut kekuasaan. Dijaman Jokowi, bukan demokrasinya yang semakin sempit, tapi kapasitas otak merekalah yang semakin sempit. Justru pada jaman pak Jokowilah prinsip demokrasi semakin diperkuat”, ujar Samuel.

Sementara itu, Politisi muda ini juga mengaku kecewa dengan tindakan Anies-Ganjar yang melakukan Gugatan terhadap KPU. Menurutnya, Anies-Ganjar tidak mempersoalkan perselisihan hasil pemilu, melainkan membahas dugaan pelanggaran prosedur.

Langkah” yg diambil oleh Anies-Ganjar selama ini padahal telah membuat rakyat tertunduk dimana mereka telah memperlihatkan bahwa pencalonan mereka bukan didasari dari kemurnian hati, melainkan ambisi. Hingga sampai pada pergerakan mereka saat ini, masyarakat umum diperlihatkan sebuah langkah g sangat konyol dimana mereka mengambil tindakan utk menggugat KPU. Ada timbul rasa kekecewaan disini”, ujarnya.

Samuel Marpaung yang merupakan alumni dari Universitas Pelita Harapan menyebutkan bahwa tindakan Anies-Ganjar kini telah melahirkan kekecewaan pada rakyat.

“Ada kekecewaan rakyat bahwa mereka memperlihatkan diri mereka masih belum pada ruang dewasa dalam berpolitik. Sehingga, langkah konyol ini dikonversi oleh rakyat menjadi sebuah hiburan mereka. Sebab, terpampang nyata mana yang memiliki tulus untuk mencalonkan, mana yang tidak sehingga mereka mencoba segala cara dengan cara yang dipaksakan”, terang Samuel.

Politisi muda ini menambahkan bahwa keputusan KPU tidak akan pernah bisa digugat dan mengatakan Anies-Ganjar cacat pemahaman akan Kontitusi.

“KPU tidak akan pernah bisa digugat. Mungkin bagi Ganjar, ide ini perlu dipopulerkan, namun ide ini sebenarnya telah masuk ke dalam kepekatan ideologi, bahkan cacat pemahaman akan Konstitusi sehingga Anies-Ganjar merubah kemasan dirinya dengan secara tidak sadar seperti token listrik, semakin isinya sedikit, semakin berisik”, tutupnya. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *